BLANTERVIO104

Istano Silinduang Bulan : Istana Raja dipertuan Rajo Gamuyang Sultan Bakilap Alam

Istano Silinduang Bulan : Istana Raja dipertuan Rajo Gamuyang Sultan Bakilap Alam
Wednesday, September 6, 2023

Rumah Gadang yang dipertauh (dipertuan) Gadih Pagaruyung Silinduang Bulan itulah nama lengkap Istana Pagaruyung di Istana Balai Janggo, Kecamatan Tanjung Emas, Ibu Kota Kabupaten Tanah Datar. Sekitar 130 Km di utara Kota Padang ditopang (disangga) 52 tiang. Bangunan Ukuran 28 x 28 meter itu berarsitektur Rumah Raja-raja di Minangkabau bercorak “alang babega”(burung elang sedang berburu) . Atapnya terbuat dari genteng metal warna hitam bergonjong 73 di sayap kiri dan kanan dan satu di depan persis bak Burung “alang babega” alias melayang-layang dan berputar-putar di udara. Dindingnya dari kayu berukir 200 motif pahatan warnanya sebagaimana bendera Minangkabau didominasi kuning, merah, dan hitam.



Di Kedua sayap Istana terdapat anjung peranginan singgasana Raja disebut kedudukan Rajo. Sebelah kiri tahta Rajo tuo dinamai “Anjuang” Emas dan sebelah kanan tahta Tuan Gadih dinamai Anjuang Perak. Halamannya sekitar 2 hektar selain dihiasi aneka bunga berdiri 2 Rangkiang alias lumbung padi ukuran 3x3 meter dinamai “sibayau-bayau” dan Sitinjau Lauik. Di Bawah anjungan sebelah kanan terletak Tabuah (beduk) larangan bernama Gaga Bumi. Nama Silinduang Bulan diberikan oleh sultan Alif Khalifatullah Johan Berdaulat Fi’l Alam 1.

Raja Alam Pagaruyung bergelar daulat yang dipertuan Rajo Gamuyang Sultan Bakilap Alam. Ketika Istana kerajaan dipindahkan dari ulak Tanjuang Bungo ke Balai Janggo Tahun 1550 kala itu selain menjabat Raja Alam Sultan Alif Khalifatullah Johan berdaulat Fil Alam 1 juga memegang Raja Adat dan Raja Ibadat Raja Pagaruyung. Pemberian nama Istana itu sekaligus menandai penggunaan penanggalan atau tarikh Islam, dan secara resmi berlakunya hukum/syariat di seluruh kerajaan Pagaruyung menggantikan hukum-hukum yang bersumber dari agama ,budha, tantrayana. Istana Silinduang Bulan dibangun kembali tahun 1750, karena istana lama telah tua dan mulai lapuk.

Pada tahun 1821 Istano Si Linduang Bulan yang kedua itu terbakar dalam kecamuk Perang Padri dan dibangun kembali oleh yang dipertuan Gadih Puti Reno Sumpu pada Tahun 1869 adalah kemenakan kandung dari Sultan Tangkal Syariful Alam Bagagarsyah gelar yang dipertuan hitam dan anak pasangan yang dipertuan Gadih reno sori dengan Sultan Abdul Jalil yang dipertuan Sembahyang. Seperti halnya Sultan KhalifAlifatullah Sultan Jalil pun pernah memegang jabatan 3 selo kedudukan atau jabatan sekaligus yaitu Raja Adat, Raja Ibadat, dan Raja Alam ketika Sultan Tang Syariful Alam Bagagarsyah yang dipertuan hitam dibuang Belanda ke Betawi. Pada tanggal 3 Agustus 1961 Istana Silinduang Bulan terbakar lagi di bekas bangunan itu kemudian didirikan Istana yang baru Tahun 1987 dengan biaya sekitar 350 Juta dan diresmikan pada tanggal 23 Desember 1989.

Itulah Istana Silinduang Bulan yang ada sekarang. Pembangunan Istana ini diprakarsai oleh Drs. Sutan Oesman gelar yang dipertuan Tuanku Tuo pewaris daulat yang dipertuan Raja Pagaruyung bersama Tan Sri Raja Khalid bin H. Raja Harun, raja Syahmenan bin H. Raja Harun kerabat Kerajaan Negeri Sembilan Malaysia. Kemudian Aminuzal Amin Datuak (Datuk) Rajo Batuah Basa 4 Balai Niniak Mamak Nagari Pagaruyung anak cucu keturunan dari Raja Pagaruyung Sapaih Balahan Kuduang Karatan juga atas dorongan sepenuh kerajaan Pagaruyung Ir. H. Azwar Anas, Gubernur Sumatera Barat Kala itu. Istana Silinduang Bulan diresmikan dengan sebuah upacara kebesaran Adat yang melibatkan para pemangku Adat sealam Minangkabau Yakni Basa 4 Balai Tuan Gadang Batipuah, tampuak tangkai alam Pariangan, Gajah Patah Lima Kaum, Simarajo Nan Sambilan, Langga Tujuah Luhak nan tigo, Tanjuang nan ampek, dan Zuriat keturunan daulat yang dipertuan Raja Pagaruyung.

Sempat mengalami kebakaran pada tanggal 21 Maret tahun 2010 namun kini telah direnovasi oleh pemerintah setempat. Bentuknya yang mirip rumah gadang membuat para wisatawan tertarik untuk mengunjunginya. Tidak para wisatawan dari dalam negeri saja yang pernah berdatangan namun mancanegara pun banyak yang mengunjunginya. Selain sejarahnya yang menarik para kerajaan pagaruyung yang juga berasal dari sini bentuk ukirannya yang khas dan unik membuat orang-orang tidak akan pernah bosan untuk mengunjungi dan mengabadikan moment selama disini. Lokasinya yang tidak begitu jauh dari tepi jalan sangat mudah diakses dan dikunjungi oleh wisatawan. Selain itu warga sekitar juga begitu ramah jika berinteraksi dengan para pengunjung. Lokasinya yang begitu strategis dikelilingi pemandangan daerah perbukitan membuat mata siapa saja terpukau untuk melihatnya. Suhu disini yang begitu asri dan tidak terlalu panas seperti daerah perkotaan menjadi alasan lain para wisatawan ingin berlama-lama jika datang singgah disini. Bahkan ada yang pernah menginap satu sampai dua hari malam di homestay terdekat hanya untuk mengunjungi kultur budaya Minangkabau tersebut.

Tarif homestay yang sangat terjangkau membuat uang saku tidak begitu banyak dikeluarkan sekaligus bisa menghemat untuk biaya makan seperti lontong gulai atau pical makanan khas Minangkabau. Namun jika ingin untuk mengunjunginya paling cocok di hari weekend seperti sabtu minggu. Selain bisa datang dari pagi hari bisa juga untuk bertemu dan bertukar cerita dengan pengunjung lain yang datang dari beragam daerah. Sayangnya Silinduang Bulan tidak seramai Rumah Gadang dikarenakan kurangnya dikelola oleh Dinas Pariwisata setempat. Jika adapun wisatawan yang datang itupun hanya dikelola oleh Nagari setempat. Walau begitu hebatnya Silinduang Bulan pernah diliput oleh Tv Nasional seperti Antv dahulunya syuting dengan membawa anak-anak sekitar untuk mempublikasikan dan menceritakan apa saja yang menjadi daya tarik Silinduang Bulan untuk dapat dikunjungi. Maka dari itu sayang rasanya dilewatkan untuk orang Indonesia sendiri jika tidak pernah untuk mengunjungi dan singgah kesini.


penulis: Eka

Share This Article :
Ramatama

TAMBAHKAN KOMENTAR

5242540319146397609